Wednesday, January 9, 2013

Mencontoh SEMAR dalam Pengajaran



Di dunia perwayangan jawa terdapat tokoh yang bernama SEMAR. Daia adalah bapak dari para “Punakawan” (Gareng, Petruk dan Bagong). Para punakawan (abdi dalem/pekerja istana) ini ditugaskan untuk menjaga para pandawa sehingga menjadi para pemimpin yang arif dan bijkasan. Konon katanya menurut cerita pewayangan SEMAR adalah titisan dari Betara Narada yang diturunkan ke Bumi untuk menjaga para pandawa untuk menebar pada kebajikan. 

Semar sendiri digambarkan seorang yang kerdil dengan perut buncit dan setiap kali berbicara selalu mengankat tangannya sambil menununjukan jari telunjuknnya. Jika semar sudah mengankatat tangan dengan menunjukkan jari telunjukknya, maka tidak ada seorang Pandawa ataupun Punakawan menolak petuah-petuahnya. Semar sendiri dalam cerita pewayangan merupakan merupakan sosok yang menarik. Dia bukan seorang penasihat, akan tetapi Semar selalu dimintai endapat oleh para Pandawa. Perkataanya yang sederhana akn tetapi sangat arif dan bijaksana.

Dalam setiap pengabdiannya kepada pandawa, Semar selalu menanamkan nilai-nilai luhur yang harus di bawa setiap langkah dalam pandawa. Ada dalam sebuah kisah, saat itu para Kurawa (saudara Pandawa sekaligus musuh bagi Pandawa) ingin memusnahkan pandawa dengan cara bermain dadu yang dalam pewayangan sering disebut kisah “Balai Sigala-gala. Dimana para kurawa berencana membakar hidup-hidup para Pandawa di sebuah rumah yang disebut Balai Sigala-gala. Para pandawa yang masih berjiwa muda pada saat itu langsung menerima tantangan kurawa untuk bermain dadu. Padahal, sang Semar kala itu sudah memberikan anjuran bahwa janganlah kamu para pandawa untuk menrima tawaran itu, karena akan membawa pada kecelakaan. Semar yang amat bijaksana dengan nada yang santun sebagai abdi dalem para pandawa mengutarakan pendapatnya. Akan tetapi, para pandawa tetap kras dengan kemauannya untuk menerima tantangan dari pra kurawa. Dan pada akhiranya terjadilah peristiwa pembakaran para pandawa di Balai Sigala-gala. Dengan pertolongan Bhatara guru para pandawapun diselamatkan dari kobaran api Balai Sigala-gala.

Setelah kejadian itu para pandawa sowan pada sang Semar untuk meminta maaf karena tidak mendengarkan apa yang diperintahnya. Semarpun dengan kearifannya menerima maafnya dan berjkata “Setiap tindakan itu memiliki resiko, kamu semua para pandawa sudah menghadapi resiko itu dengan apapun yang akan terjadi dan akan memberikanmu pengalaman baik-buruk di setiap jalan yang kamu pilih, saya sebagai abdi dalem dan orang tua cuman bisa mengingatkan yang muda-muda supaya menjalani resiko itu dengan benar”. Dari kejadian itu kewibawaan seorang semar didepan momongannya sangat terlihat, dan itulah yang membuat para pandawa selalu menuruti kata-kata dari seorang semar yang merupakan abdi dalem pandawa selalu diikuti oleh para pandawa. 

Dari cuplikan cerita itu, meskipun pendapat seorang semar di tolak maka dia tetap dengan rendah hati menerimanaya, karena beliau ingin mengajarkan pada para anak didiknya untuk biarlah belajar maka dengan sendirinya dia akan tau baik buruknya. Kebijakan dan kewibawaan semar didepan anak asuhnya selalu tercermin dari sikapa dan tutur kata yang bijak, hingga para Pandawa dapat menjalankan kehidupannya dengan nilai-nilai luhur.

Dari sosok seorang Semar, dapat menjadi acuan bagi para pendidik ataupun pengajar. Bahwa, dalam mendidik kebijaksanaan seorang guru amatlah penting. Seorang guru yang bijak harus dapat membaca situasi untuk melakukan suatu tindakan dalam setiap pengajarannya. Kebijakan seorang guru akan mendorong para siswanya untuk menemukan nilai-nilai luhur norma-norma agama ataupun budaya. Meski pendapat seorang semar terkadang tidak didengar, tak lantas dia marah akan tetapi membiarkan Pandawa untuk melakukan keyakinanya itu sehingga menemukan kebenaran dari sebuah pengalaman hidup. Menjadi seorang guru harus bersikap demokratis tanpa menghilangkan kontrol dalam pengajaran. Memberikan kebebasan siswa untuk berpikir mengelurkan pendapatnya sehingga siswa dapat menemukan makana dari sebuah pemebelajaran. Tentunya, tanpa menghilangkan bimbingan dari seorang guru.

Kewibawaan seorang guru juga harus dibangun didepan siswa-siswanya. Kewibawaan amatlah penting. Guru yang wibawa akan memberikan pancaran positif bagi para siswa sehingga apapun yang dilakukan guru akan dilakukan dengan benar oleh para siswa. Kewibawaan tentunya bisa dimiliki oleh seorang guru dengan kearifan dan bijaksana pada setiap tutur katanya. Memebrikan ketauladanan pada siswanya juga bisa membangun kewibawaan seorang guru.

“Jadilah guru yang berwibawa, bukan guru yang ditakuti oleh siswanya. Kerena kewibawaan seorang guru akan membawa langkah siswa pada kebijaksanaan dan kearifan dalam berpikir”

Oleh: Samsul Maarif



Temukan tulisan terkait:



No comments:

Post a Comment

Mohon komentarnya....!

Pendidikan

Analisis Data Statistik dengan SPSS


Tinggalkan Pesan dan Kesan Anda di Buku Tamu

Komentar Terbaru