Tuesday, February 9, 2016

Al-Zalzalah: Mengkaji Konsep Titik (Geometri Datar) dengan Suatu Pendekatan Lain



Al-Zalzalah: Mengkaji Konsep Titik (Geometri Datar) dengan Suatu Pendekatan Lain

Oleh: Samsul Maarif


Geometri yang secara tata bahasa berasal dari  bahasa Yunani kuno “γεωμετρία “  yang terdiri dari dua buah suku kata yaitu yang berarti geo (bumi) dan metron (pengukuran). Sehingga dapat dikatakan bahwa semua yang terkait dengan ukuran benda-benda di muka bumi dapat dipelajari pada bidang ilmu geometri. Ada beberapa bagian fundamental pada ilmu geometri yang harus dipahami secara mendasar yaitu konsep titik, garis dan bidang. Sehingga, konsep-konsep tersebut harus didefinisikan dengan jelas sehingga tidak ada keslahpahaman konsep (miss conception) dalam pembelajaran.


Greenberg (1994) mendefinisikan bidang sebgai bangun geometri yang memiliki panjang dan lebar, garis sebagai bangun geometri yang memiliki panjang tetapi tidak memilki lebar dan titik adalah bangun geometri yang tidak memiliki panjang dan tidak memiliki lebar. Kita dapat dengan mudah memahamkan siswa tentang tentantg garis dan bidang ketimbang memahamkan konsep titik. Sebagai contoh kita dapat memberikan analogi sutu garis sebagai benang yang ditarik lurus dan bidang sebagai selembar kertas. Meskipun dalam arti yang sesungguhnya benang dan kertas bukanlah garis ataupun bidang yang sebenarnya. Akan tetapi, dengan cara itu setidaknya siswa  dapat membayangkan bahwa garis dan bidan itu ada. Bagaimana dengan konsep titik? analogi apa yang dapat kita pakai untuk menggambarkan titik secara tepat?



Dalam kehidupan sehari-hari simbol titik “.” biasa digunakan ketika kita menulis suatu kalimat maka diakhiri dengan simbol titik yang berarti mengakhiri suatu pernyataan dalam bentuk kalimat. Tentunya titik yang dimaksud berbeda dengan definisi titik pada geometri meskipun secara penyimbolan sama. Dalam buku The Element of Euclid didefinisikan bahwa sebuah titik tidak memiliki bagian. Timbul pertanyaan jika titik tidak memiliki bagian apakah titik memiliki besaran?.

Penulis sering berselorok pada mahasiswa pada sebuah kesempatan perkuliahan geometri  “apakah titik itu berarti sebuah atom yang tidak dapat dibagi-bagi lagi menjadi bagian yang terkecil (dalam konsep atom Dalton) atau bagian dari atom yang meliputi nutron, proton dan elektron (dalam konsep atom modern)?” jika kita gunakan analogi ini tentunya atom memiliki besara sehingga sebuah atom dapat diukur dimensinya. Memang sangat sulit untuk menggambarkan sebuah titik dalam kehidupan sehari-hari. Nampaknya bangun geometri yang satu ini tidak dapat kita ambil contoh bentuk dan besaranya dalam kehidupan sehari-hari.

Keberadaan titik hanya ada pada alam ide yang kedudukanya sebagai penyebab dari bentuk dan sifat bangun geometri yang lain. Kita dapat membayangkanya dalam ide pikiran kita tanpa mempertimbangkan, mengenal atau juga mengatakan bahwa titik tidak ada. Jadi sebuah titik pada geometri adalah sebuah kesepakatan untuk menunjukan sebuah bagian yang tidak memiliki bagian. Sehingga, tentang apakah titik memiliki ukuran, tentunya tidak ada ukuran kuantitas pada sebuah titik. Tapi, tidak dapat dikatakan pula bahwa kuantitas dari sebuah titik adalah bernilai nol. Misalkan dengan mengatakan panjang sebuah titik adalah nol sentimeter. Karena, jika mengatakan bahwa titik berukuran nol centimeter itu sama halnya bahwa keberadaan titik tidak ada. Sama seperti kita mengatakan banyaknya air pada sebuah gelas adalah nol sentimeter kubik yang berarti dalam kegelas itu sama sekali tidak menagandung air. Artinya, sebuah titik juga bukan sebagai sutau kedudukan yang unik pada ruang.

Penulis ingin mencoba mengenalkan titik dengan suatu pendekatan Al-Quran yaitu dengan menyajikan Q.S. Al Zalzaah yang diartikan sebagai berikut:

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 1-8)


Surat di atas menceritakan kejadian hari qiyamat, tetapi penulis tidak memiliki kapabilitas untuk menafsirkan surat tersebut secara menyeluruh dengan menggunakan pendekatan ayat-ayat Al-Quran lain ataupun Hadist. Penulis hanya ingin mencoba mendekati konsep titik dengan salah satu ayat yang ada di surat tersebut yaitu ayat 7 dan 8, yaitu:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Tausikal (2014) menafsirakn dzarrah sebagai ukuran yang sangat kecil atau sepele. Seberapa kecilnya ukuran tidak dapat di ukur ataupun diwujudkan tetapi balasan itu ada. Oleh karena itu, karena ukurannya yang kecil manusia sering menyimbolkan titik dengan noktah yang jika dibandingkan dengan bidang yang diberi noktah maka perbandingannya sangat jauh.  Sehingga, manusia tidak dapat mengukur sebuah titik tapi keberadaan titik pada geometri dapat di bayangkan.

Nampaknya analogi untuk menjelaskan konsep titik dengan memperhatikan ayat di atas yang di gambarkan bahwa “sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan maka kita akan menuai kebaikan atau sebaliknya sekecil apapun dosa yang kita lakukan maka akan mendapatkan hukumannya”. Perhatikan baik-baik pernyataan tersebut. Berapa kecil kebaikan atau keburukan yang ada dalam pernyataan itu? tentunya kita tidak bisa menghitungya akan tetapi eksistensi dari balasan kebaikan atau keburukan itu ada dan dapat diterima oleh akal. Demikian halnya sebuah titik yang eksistensinya dalam geometri diakuai akan tetapi berapa besar atau kecil nilai kuantitas dari sebuah titik tidak dapat ditentukan. Sebuah titik tidak dapat ditentukan panjang, lebar, volume atau besaran lainya. Sehingga, sebuah titik harus dipahami secara jelas dalam alam ide bukan dipahami sebagai benda yang dapat ditentukan secara kuantitas. Sebuah titik pada bangun geometri akan mendefinisikan konsep-konsep geometri yang lain, sehingga jika kita bilang titik tidak ada sepertinya kurang tepat.

Apa yang kita dapat kita ambil khikmah dari pokok bahasan konsep titik kali ini. Manusia harus dapat menempatkan sebuah titik sebagai dasar untuk selalu berlomba-lomba kepada kebajikan karena dengan izin Alloh semua kebajikan akan dibalas olehNya dan selalu menjauhkan bahkan jangan sampai mendekati dosa karena sekecil apapun dosa yang kita perbuat akan mendapat balasaNya. Fastabikhul khoerotsssss................


Daftar Pustaka

Euclid. (1976). The Elemnt of Euclid. Londin: James and Jhon Knapton.

Greenberg, M. J.(1994). Euclidean and Non-Euclidean Geometries Development and History. New York: W.H. Freeman and Company.

Tausikal, M. A. (2014). Tafsir Surat Al Zalzalah: Gempa Bumi yang Dahsyat pada Hari Kiamat.[Online] tersedia di https://muslim.or.id/20170-tafsir-surat-al-zalzalah-gempa-bumi-yang-dahsyat-pada-hari-kiamat.html diakses pada pukul 17.31 tanggal 9 Februari 2016




No comments:

Post a Comment

Mohon komentarnya....!

Pendidikan

Analisis Data Statistik dengan SPSS


Tinggalkan Pesan dan Kesan Anda di Buku Tamu

Komentar Terbaru